Mendidik dengan Hati

Othok-othok, mainan tradisional yang tidak dikenal anak jaman sekarang

Othok-othok adalah mainan tradisional yang terbuat dari bambu. Mainan ini berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada waktu saya kecil, mainan ini banyak kita jumpai di pasar tradisional dan ada juga penjual mainan yang menjajakan othok-othok di sekolah.
mainan othok-othok
Saat ini mainan othok-othok sudah mulai langka. Pak guru ini mendapatkan othok-othok ini dari teman yang kuliah S2 di UGM Yogyakarta. Katanya dia iseng saja beli dua buah mainan ini. Yang jualan juga nenek-nenek yang sudah tua. Katanya kasihan kalau tidak ada yang beli. Teman saya mendapatkan othok-othok ini di pasar tradisional Malioboro, ya tepatnya di emperan pasar Bringharjo.

Cara memainkan othok-othok
cara memainkan othok-othok
Cara memainkannya sangatlah mudah. Yakni dengan cara kita pegang bagian pegangannya kemudian kita putar-putar. Pada saat othok-othok berputar itulah akan berbunyi “othok-othok”. Oleh karena itu mainan tradisional ini disebut dengan othok-othok. Apakah di daerah kamu masih ada mainan tradisional ini? Kalau ada coba dibeli. Harganya murah kok, rata-rata Rp5000.
Othok-othok ini bisa dijadikan pajangan lho. Kamu bisa menaruhnya sebagai hiasan dinding atau bisa dijejerkan dengan hiasan yang unik lainnya.

Waktu dulu, othok-othok ini banyak digemari oleh anak-anak usia 3 tahun hingga 7 tahun. Dikarenakan saat ini sangat jarang ada orang yang membuat othok-othok lagi, maka mainan tradisional ini sudah jarang kita temukan. Bahkan anak sekarang tidak pernah melihat dan tidak mengenal mainan tradisional khas Jawa. Orang tua sekarang juga lebih senang mengenalkan mainan yang modern, mainan yang terbuat dari plastik dan sebagainya. Apalagi jaman yang serba canggih ini anak balita sudah mahir main gatget Anroid.

Ironis gak nih? Mungkin kalau saya nanti punya anak kecil, saya mau mengenalkan permainan tradisional. Ternyata manfaat permainan tradisional ini tidak kalah dengan mainan yang modern. Mainan tradisional ini juga merangsang mereka untuk berkreatif dan juga bisa menjadi sarana mengenalkan budaya kita yang semakin hilang.
Rating: 4.5