Mendidik dengan Hati

Model pembelajaran SAVI terlengkap

Pada artikel ini saya akan menjelaskan model pembelajaran SAVI (Somatic-Auditory-Visualization-Intellectualy) secara lengkap dan detail. Saya juga seorang guru fisika di SMP dan SMA pernah menerapkan model pembelajaran SAVI. Hari dari penenerapan model tersebut hasil belajar dan motivasi siswa untuk belajar semakin meningkat. Model pembelajaran SAVI juga bisa anda gunakan untuk penelitian tindakan kelas (PTK). Model pembelajaran SAVI lebih menekankan pada keaktifan siswa di kelas. Kebetulan kurikulum 2013 guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembelajarannya student center (pembelajaran yang berpusat pada siswa). Oke… berikut penjelasannya:



Pengertian model pembelajaran SAVI
Pendekatan SAVI diperkenalkan pertama kali oleh Dave Meier. Meier (Sidjabat, 2008). Kepanjangan dari SAVI adalah Somatic, Auditori, Visual dan Intektual. Teori yang mendukung pembelajaran SAVI adalah Accelerated Learning, teori otak kanan/kiri; teori otak triune; pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik); teori kecerdasan ganda; pendidikan (holistic) menyeluruh; belajar berdasarkan pengelaman; belajar dengan symbol.
1.      Somatis
Somatic berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh. Belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinetesis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan tubuh sewaktu belajar secara berkala. Meier juga menguatkan pendapatnya dengan menyampaikan hasil penelitian neurologis yang menemukan bahwa pikiran tersebut di seluruh tubuh. Jadi dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya.
Somatis berarti bangkit dari tempat duduk dan bertindak aktif secara fisik selama proses belajar. Berdiri dan bergerak kesana kemari meningkatkan sirkulasi dalam tubuh dan oleh karena itu mendatangkan energi segar ke dalam otak. Belajar somatis merupakan belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis dengan melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.  Belajar somatis ini bias terhadapa tubuh dimana anak-anak yang bersifat somatis, yang tidak dapat duduk tenang dan harus menggerakkan tubuh mereka untuk membuat pikiran mereka tetap hidup. Dalam belajar somatis ini tubuh dan pikiran itu satu dimana penelitian neurologis telah menemukan bahwa pikiran tersebar diseluruh tubuh. Tubuh adalah pikiran dan pikiran adalah tubuh. Jadi dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh  dalam belajar maka menghalangi fungsi pikiran sepenuhnya. Melibatkan tubuh, untuk merangsang hubungan pikiran dan tubuh maka harus tercipta suasana belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu.
2.      Auditori
Pikiran auditori lebih kuat dari apa yang di sadari. Telinga bekerja terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori. Dan ketika membuat suara sendiri dengan berbicara, maka beberapa area penting di otak pun menjadi aktif. Dalam merancang pelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam diri pembelajar, maka dengan cara mendorong pembelajar untuk mengungkapkan dengan suara. Pembelajaran auditori merupakan belajar paling baik jika mendengar dan mengungkapkan kata-kata.
Menurut Meier (2004 : 95), belajar Auditori merupakan cara belajar standar bagi semua orang sejak awal sejarah. Seperti kita ketahui sebelum manusia mengenal baca tulis banyak informasi yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan misalnya mitos, dongeng-dongeng, cerita-cerita rakyat. Bangsa yunani kuno juga mendorong orang untuk belajar dengan suara lantang melalui dialog. Filosofi mereka adalah “jika kita mau belajar lebih banyak tentang apa saja, bicaralah tanpa henti”.
3.      Visual
Ketajaman penglihatan setiap orang itu kuat, disebabkan oleh fikiran manusia lebih merupakan prosesor citra dari prosesor kata. Citra karena konkret mudah untuk diingat dan kata, karena abstrak sehingga sulit untuk disimpan. Didalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain. Pembelajar visual belajar paling baik jika dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar dan gambaran dari segala macam hal ketika sedang belajar. Dengan membuat yang visual paling tidak sejajar dengan yang verbal sehingga dapat membantu pebelajar untuk belajar lebih cepat dan baik.
Menurut Meier (2004 : 97), setiap orang memiliki ketajaman visual yang sangat kuat. Hal ini dikarenakan didalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada semua indra yang lainnya. Lebih lanjut meier mengungkapkan bahwa beberapa siswa (terutama pembelajar visual) akan lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang dibicarakan guru atau sebuah buku.
4.      Intelektual    
Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna. Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untulk berfikir, meyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru dan belajar. Pada intelektual identik dengan melibatkan pikiran untuk menciptakan pembelajarannya sendiri. Belajar bukanlah menyimpan informasi tetapi menciptakan makna, pengetahuan dan nilai yang dapat dipraktekkan oleh pikiran pebelajar.
Menurut Meier (2004 : 99), kata intelektual menunjukkan apa yang dilakukan siswa dalam pikirannya secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut. Lebih lanjut meier mendefinisikan intelektual sebagai pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untk berfikir, menyatukan pengalaman, menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional dan unuititif tubuh untuk membat makna baru bagian dirinya sendiri.
Dave Meier, 2005 , menambahkan satu lagi gaya belajar intelektual. Gaya belajar intelektual bercirikan sebagai pemikir. Pembelajar menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. “ Intelektual” adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahamanmenjadikearifan.
Pembelajaran SAVI menganut aliran ilmu kognitif modern yang menyatakan belajar yang paling baik adalah melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta keluasan pribadi, menghormati gaya belajar individu lain dengan menyadari bahwa orang belajar dengan cara-cara yang berbeda. Mengkaitkan sesuatu dengan hakikat realitas yang nonlinear, nonmekanis, kreatif dan hidup.
Belajar beerdasarkan aktifitas berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/ pikiran terlibat dalam proses pembelajaran. (Dave Meier, 2005) .Dengan demikian, belajar bisa terjadi secara optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam proses pembelajaran, yaitu menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan dengan penggunaan semua indranya.
Menurut Warta (2010: 40), “Pendekatan SAVI merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indera yang dimiliki oleh siswa”. Dari pengertian ini, jelas bahwa pendekatan SAVI merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua inderanya dalam proses pembelajaran.
Prinsip-prinsip model pembelajaran SAVI
Meier (Sidjabat, 2009) mengajukan sejumlah prinsip pokok dalam belajar dengan menggunakan pendekatan SAVI, yaitu sebagai berikut.
1)      Belajar melibatkan seluruh tubuh dan pikiran.
2)       Belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi.
3)      Kerjasama membantu proses belajar.
4)      Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.
5)      Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri.
6)      Emosi positif sangat membantu pembelajaran.
7)      Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.

Langkah-langkah model pembelajaran SAVI
a. Tahapan-tahapan metode pembelajaran SAVI
Tahapan yang perlu ditempuh dalam SAVI adalah persiapan,penyampaian, pelatihan, dan penampilan hasil. Kreasi apapun, guru perlu dengan matang, dalam keempat tahaptersebut
1)Tahap Persiapan (Kegiatan Pendahuluan)
Pada tahap ini guru membangkitkan minat siswa, memberikan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar. Secara spesifik meliputi hal:
a) Memberikan sugesti positif  
b) Meberikan pernyataan yang memberi manfaat kepada siswa
c) Memberikan tujuan yang jelas dan bermakna
d) Membangkitkan rasa ingin tahu
e) Menciptakan lingkungan fisik yang positif 
f) Menciptakan lingkungan emosional yang positif
 g) Menciptakan lingkungan social yang positif 
h) Menenangkan rasa takut
i) Menyingkirkan hambatan-hambatan belajar 
 j) Banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah
k) Merangsang rasa ingin tahu siswa
l) Mengajak pembelajar terlibat penuh sejak awal
2)      Tahap Penyampaian (Kegiatan Inti)
Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa menemukan materi belajar yang barudengan cara melibatkan panca indera, dan cocok untuk semua gaya belajar. Hal-hal yangdapat dilakukan guru:
a)      Uji coba kolaboratif dan berbagai pengetahuan
b)      Pengamatan fenomena dunia nyata
c)      Pelibatan seluruh otak, seluruh tubuh
d)       Presentasi interaktif
e)      Grafik dan sarana yang presetasi berwarna-warni
f)         Aneka macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar
g)      Proyek belajar berdasar kemitraan dan berdasar tim
h)      Latihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok)
i)         Pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual
j)         Pelatihan memecahkan masalah
3)      Tahap Pelatihan (Kegiata Inti)
Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa mengintegrasikan dan menyerapengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Secara spesifik, yang dilakukan guru yaitu:
a)      Aktivitas pemrosesan siswa 
b)      Usaha aktif atau umpan balik atau renungan atau usaha kembali
c)      Simulasi dunia-nyata
d)      Permainan dalam belajar 
e)      Pelatihan aksi pembelajaran
f)        Aktivitas pemecahan masalah
g)       Refleksi dan artikulasi individu
h)      Dialog berpasangan atau berkelompok 
i)         Pengajaran dan tinjauan kolaboratif 
j)        Aktivitas praktis membangun keterampilan
k)      Mengajar balik 
4)      Tahap Penampilan Hasil (Tahap Penutup)
Pada tahap ini hendaknya membantu siswa menerapkan dan memperluas pengetahuanatau keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah:
a)      Penerapan dunia nyata dalam waktu yang segera 
b)      Penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi
c)      Aktivitas penguatan penerapan
d)      Materi penguatan persepsi
e)      Pelatihan terus menerus
f)        Umpan balik dan evaluasi kinerja
g)      Aktivitas dukungan kawan,Perubahan organisasi dan lingkungan yang   mendukung.
Dibawah ini adalah beberapa contoh bagaimana membuat aktifitas sesuai dengan cara belajar/ gaya belajar siswa:
Gaya belajar
Aktifitas
Somatis
Orang dapat bergerak ketika mereka:
1. Membuat model dalam suatu proses atau prosedur
2. Menciptakan piktogram dan periferalnya
3. Memeragakan suatu proses, sistem, atau seperangkat konsep
4. Mendapatkan pengalaman lalu menceritakannya dan merefleksikannya
5. Menjalankan pelatihan belajar aktif (simulasi, permainan belajar dan lain-lain)
6. Melakukan kajian lapangan. Lalu tulis, gambar, dan bicarakan tentang apa yang dipelajari.
Auditori
Berikut ini gagasan-gagasan awal untuk meningkatkan sarana auditori dalam belajar
1. Ajaklah pembelajar membaca keras-keras dari buku panduan dan komputer
2. Ceritakanlah kisah-kisah yang mengandung materi pembelajaran yang terkandung didalam buku pembelajaran yang dibaca mereka
3. Mintalah pembelajar berpasang-pasangan menbincangkan secara terperinci apa yang mereka baru saja mereka pelajari dan bagaimana mereka akan menerapkanya
4. Mintalah pembelajar mempraktikkan suatu ketrampilan atau memperagakan suatu fungsi sambil mengucapkan secara singkat dan terperinci apa yang sedang mereka kerjakan
5. Mintalah pembelajar berkelompok dan bicara non stop saat sedang menyusun pemecahan masalah atau membuat rencana jangka panjang
Visual
Hal-hal yang dapat dilakukan agar pembelajaran lebih visual adalah:
1. Bahasa yang penuh gambar (metafora, analogi)
2. Grafik presentasi yang hidup
3. Benda 3 dimensi
4. Bahasa tubuh yang dramatis
5. Cerita yang hidup
6. Kreasi piktrogram (oleh pembelajar)
7. Pengamatan lapangan
8. Dekorasi berwarna-warni
9. Ikon alat bantu kerja
Intelektual
Aspek intelektual dalam belajar akan terlatih jika kita mengajak pembelajaran tersebut dalam aktivitas seperti:
1. Memecahkan masalah
2. Menganalisis pengalaman
3. Mengerjakan perencanaan strategis
4. Memilih gagasan kreatif
5. Mencari dan menyaring informasi
6. Merumuskan pertanyaan
7. Menerapkan gagasan baru pada pekerjaan
8. Menciptakan makna pribadi
9. Meramalkan inplikasi suatu gagasan

E.                 Aplikasi model pembelajaran SAVI pada pembelajaran matematika di sekolah

Suasana belajar dikatakan baik apabila didukung dengan keadaan yang positif dan adanya minat dalam diri pembelajar sehingga dapat mengoptimalkan pembelajaran. Menurut Dave Meier(2002:33-34) ada beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan SAVI dalam kegiatan belajar sehari-hari khususnya belajar matematika pada pokok bahasan kubus dan balok:
1.      Dapat terciptanya lingkungan yang posotif
2.      Keterlibatan pembelajar sepenuhnya
3.      Adanya kerjasama diantara pembelajar
4.      Menggunakan metode yang bervariasi tergantung dari pokok bahasan yang dipelajari
5.      Dapat menggunakan belajar kontekstual
6.      Dapat menggunakan alat peraga

Belajar bisa menjadi optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam suatu peristiwa pembelajaran. Dalam pokok bahasan KUBUS DAN BALOK dengan menerapkan pendekatan SAVI langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.      Mengelompokkan siswa dalam kelompok beranggotakan empat orang.
2.      Semua siswa mempunyai alat peraga, yaitu sebuah kerangka kubus dan sebuah kerangka balok terbuat dari karton
3.      Meminta siswa memperagakan konsep yang dipelajari sambil mengucapkan secara terperinci langkah-langkahnya(somatik dan auditori)
4.      Setiap kelompok diberi soal-soal yang telah disiapkan oleh guru
5.      Setiap siswa diminta mendiskusikan tentang soal-soal yang diberikan perkelompok(auditori, visual, dan intelektual)
6.      Selama diskusi berlangsung guru mengamati kerja setiap kelompok secara bergantian dan mengarahkan atau membantu siswa yang kesulitan.
7.      Pada akhir kerja kelompok, setiap kelompok diminta perwakilan untuk mengerjakan soal-soal yang telah diberikan di papan tulis. Sedangkan siswa yang lain menanggapinya(somatik, auditori, visual dan intelektual).

Dengan memeperhatikan pendekatan SAVI pada pokok bahasan kubus dan balok dapat menggunakan alat peraga dimana siswa dapat belajar dengan berbuat dan bergerak yang menjadikan siswa aktif dan tidak merasa jenuh.

Kelebihan dari model pembelajaran SAVI
a. Membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual
b. Siswa tidak mudah lupa karena siswa membangun sendiri pengetahuannya.
c. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena siswa merasa diperhatikan sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika.
d. Memupuk kerjasama karena siswa yang lebih pandai diharapkan dapat membantu yang kurang pandai.
e. Memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik dan efektif
f. Mampu membangkitkan kreatifitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa
g. Memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa
h. Siswa akan lebih termotivasi untuk belajar lebih baik.
i. Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat dan berani menjelaskanjawabannya.
j. Merupakan variasi yang cocok untuk semua gaya belajar
Kelemahan dari model pembelajaran SAVI
a. Pendekatan ini menuntut adanya guru yang sempurna sehingga dapat  memadukan keempat komponen dalam SAVI secara utuh.
b. Penerapan pendekatan ini membutuhkan kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran yang menyeluruh dan disesuaikan dengan kebutuhannya, sehingga memerlukan biaya pendidikan yang sangat besar. Terutama untuk pengadaan media pembelajaran yang canggih dan menarik. Ini dapat terpenuhi pada sekolah-sekolah maju. (Meier,2005:91-99)dalamhttp://goez17. wordpress.com).
c. Karena siswa terbiasa diberi informasi terlebih dahulu sehingga siswa kesulitan dalam menemukan jawaban ataupun gagasannya sendiri.
d. Membutuhkan waktu yang lama terutama bila siswa yang lemah.
e. Membutuhkan perubahan agar sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu.
f. Belum ada pedoman penilaian, sehingga guru merasa kesulitan dalam evaluasi atau memberi nilai.
g. Pendekatan SAVI masih tergolong baru, sehingga banyak pengajar guru yang belum mengetahui pendekatan SAVI tersebut
h. Pendekatan SAVI ini cenderung kepada keaktifan siswa, sehingga untuk siswa yang memiliki tingkat kecerdasan kurang, menjadika siswa itu minder.
i. Pendekatan ini tidak dapat diterapkan untuk semua pelajaran matematika.
Rating: 4.5

0 comments:

Poskan Komentar